Sabtu, 17 Oktober 2026
Pengumuman

Pengumuman Hasil Penerimaan Peserta Didik Baru Jalur Bakat Minat (Offline) Tahun 2023/2024

Informasi PPDB
Semua beritaKarya Guru dan Karyawan

ONTOLOGI URGENITAS HUMAS DALAM MENDUKUNG KEGIATAN PENDIDIKAN DI SEKOLAH KEJURUAN

Minggu, 14 Oktober 2018Dibaca 840 kali12 menit baca

Penulis: Sangga Cumbuan Kejora, M. Pd

Partisipasi masyarakat dalam kegiatan Pendidikan

Didalam GBHN dicantumkan bahwa tujuan penyelenggaraan pendidikan adalah untuk

mencerdaskan kehidupan bangsa. Penyelenggaraan tersebut merupakan tanggungjawab

pemerintah, masyarakat dan orang tua. Agar tujuan penyelenggaraan pendidikan dapat tercapai,

sekolah harus mengadakan hubungan dengan masyarakat karena sekolah merupakan lembaga

pendidikan yang menunjang perkembangan masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat

bertanggungjawab atas pembinaan dan pengembangan sekolah. Hal itu didasarkan atas pemikiran

bahwa masyarakat sangat membutuhkan sekolah.

Salah satu wadah kerjasama yang dapat dilakukan masyarakat dan sekolah adalah

melalui Badan Pembantu Penyelenggaraan Pendidikan (BP3), seperti yang tercantum dalam

Undang-undang No. 4 Tahun 1959 (Sutedjo Brodjonagoro, 1959:174). Pasal 28 Undang-undang

no. 4 menyatakan bahwa

1. Hubungan sekolah dengan orang tua murid harus dipelihara dengan sebaik-baiknya;

2. Untuk mewujudkan hubungan tersebut, perlu dibentuk satu panitia pemeliharaan sekolah, yang

terdiri atas beberapa orang tua murid;

3. Susunan dan kewajiban panitia pembantu pemeliharaan sekolah ditetapkan oleh Mendikbud.

Mengutip dari beberapa pendapat para ahli seperti Hendyat Sutopo (1992:238) dan

Soegarda Poerbakawatja (1981:286), dapat disimpulkan bahwa BP3 adalah organisasi

nonstruktural yang lebih bersifat konsultatif, anggotanya terdiri atasvorang tua murid, guru, dan

tokoh masyarakat serta membantu penyelenggaraan pendidikan disekolah agar sekolah hidup

lebih subur dan lebih sanggup memelihara tugasnya.

Sementara itu, tugas dan wewenang BP3 seperti yang dirumuskan oleh tim dosen

Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, IKIP Malang (1988:244) adalah sebagai

berikut :

1. Mendorong dan meningkatkan hubungan yang baik antara masyarakat, sekolah, dan pemerintah.

2. Membantu kelancaran kegiatan pendidikan dan tidak mencampuri urusan teknik pengajaran di

sekolah, yang menjadi wewenang kepala sekolah, guru, dan pengawas

3. Mengusahakan bantuan dari masyarakat, baik baik berupa benda, uang maupun jasa, dengan tidak

menambah kewajiban pembayaran denda.

4. Memberikan pertimbangan kepada kepala sekolah dan kepala perwakilan Depdikbud tentang

keuangan atas pembayaran SPP2.

Terjadinya hubungan yang baik antara sekolah dan orang tua murid serta masyarakat, akan

bermanfaat bagi sekolah, masyarakat, orang tua murid dan anak didik sendiri.

1. Manfaat bagi sekolah

a. Memudahkan sekolah untuk memperbaiki kondisi pendidikan.

b. Memperbesar usaha untuk meningkatkan profesi staf sekolah, terutama guru.

c. Menjaga kepercayaan masyarakat terhadap sekolah sehingga sekolah mendapat bantuan dan

dukungan masyarakat serta memperoleh sumber-sumber yang diperlukan untuk meneruskan dan

meningkatkan program sekolah.

2. Manfaat bagi masyarakat dan orang tua murid.

a. Masyarakat akan mengetahui semua hal tentang persekolahan beserta inovasinya.

b. Masyarakat akan mengetahui semua kegiatan yang dilakukan sekolah dalam melaksanakan

tanggungjawab yang dibebankan masyarakat.

c. Masyarakat dapat menyalurkan partisipasinya.

3. Manfaat bagi anak didik

a. Pengetahuan yang belum diperoleh disekolah dapat diperoleh dari masyarakat dan orang tua.

b. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh disekolah dapat diaplikasikan di masyarakat.

c. Anak didik akan belajar dimasyarakat, menginngat waktu yang disediakan disekolah berkisar tujuh

jam.

Bentuk Partisipasi Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pendidikan

a) Konsep Partisipasi Masyarakat

Hingga kini belum terdapat satu kesepakatan, indikator, maupun ukuran yang digunakan para

ahli atau peneliti tentang konsep partisipasi masyarakat dalam pembangunan.

Partisipasi masyarakat sering diartikan sumbangan tenaga, uang, atau barang dalam rangka

menyukseskan program atau proyek pembangunan. Dengan perkataan lain partisipasi diartikan

seberapa besar tenaga, dana, atau barang yang dapat disediakan sebagai sumbangan atau kontribusi

masyarakat kepada proyek-preyek pemerintah.

Partisipasi berasal dari bahasa Inggris yaitu Participate yang berarti ikut mengambil

bagian (Wojo-wasito., 1988:139). Menurut Soegarda Poerbakawatja (1981:251), partisipasi

adalah suatu gejala demokrasi tempat orang-orang diikutsertakan dalam perencanaan dan

pelaksanaan segala sesuatu yang berpusat pada berbagai kepentingan. Sementara itu, Rogers

(1981:63) memberikan pengertian partisipasi sebagai tingkat keterlibatan anggota sistem sosial

dalam proses pengambilan keputusan untuk suatu rencana.

b) Prasyarat partisipasi masyarakat

Menurut Patria Westra (1977:16), agar partisipasi dapat tercapai dengan baik,masyarakat harus

memperhatikan beberapa prasyarat partisipasi, antara lain:

a. Tersedianya waktu yang cukup untuk mengadakan partisipasi, karena partisipasi sulit dilaksanakan

dalam keadaan serba darurat.

b. Pembiayaan partisipasi hendaknya tidak melebihi hasil-hasil yang akan diperoleh serta

memperhatikan segi-segi penghematan.

c. Pelaksana partisipasi harus memandang pentingnya keberadaan kelompok kerja yang akan

dipartisipasikan.

d. Peserta partisipasi harus mempunyai kemampuan khusus sehingga efektif untuk dipartisipasikan.

e. Pelaku partisipasi harus dapat berhubungan secara timbal balik sehingga dapat saling bertukar ide

dengan pengertian dan bahasa yang sama.

f. Tidak ada pihak-pihak yang merasa bahwa posisinya terancam akibat adanya partisipasi.

g. Partisipasi akan lebih efektif jika didasarkan asas kebebasasn bekerja.

c) Keuntungan Partisipasi Masyarakat

Dengan adanya pastisipasi, organisasi akan memperoleh beberapa keuntungan dalam mencapai

keberhasilan sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Beberapa keuntungan tersebut, yaitu :

a. Memungkinkan diperolehnya keputusan yang benar karena banyaknya sumbangan pikiran.

b. Mengembangkan kemampuan yang dimiliki anggota

c. Membangun komunikasi yang baik didalam organisasi karena lebih banyak terjadi komunikasi

dua arah.

d. Mendorong sikap untuk bertanggungjawab dalam membangun kepentingan bersama.

d) Tingkatan Partisipasi Masyarakat

Jika dilihat dari tingkatanya, partisipasi masyarakat dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu

a. Partisipasi dalam proses pengambila keputusan

b. Partisipasi dalam proses perencanaan dalam kaitanya dengan program lain.

c. Partisipasi dalam pelaksanaan suatu program (Jumrowi dan Subandiyah, 1982:2)

e) Tipe-tipe Partisipasi Masyarakat

Pada prinsipnya partisipasi masyarakat dipilah dalam dua tipe yang berbeda, yaitu partisipasi

yang menyangkut aktivitas bersama dalam proyek pembangunan khusus, serta partisipasi sebagai

individu diluar aktivitas bersama (Koentjaraningrat, 1981:78).

Pada tipe pertama, masyarakat diajak dan diperintah oleh pamong desa dan wakil dari berbagai

departemen untuk berpartisipasi dan menyumbangkan tenaga dan hartanya bagi kegiatan

pembangunan khusus, biasanya bersifat pembangunan sarana fisik.

Pada tipe kedua, tidak ada aktivitas khusus, tetapi terdapat proyek pembangunan. Biasanya,

proyek tersebut tidak bersifat fisik dan dilaksanakan oleh masyarakat atas dasar atau kemauan4

sendiri. Proyek tersebut, antara lain gerakan keluarga berencana dan gerakan tabungan

kesejahteraan rakyat.

f) Tujuan dan Fungsi Partisipasi Masyarakat

Didalam pasal 2 Peraturan Pemerintah nomor 39 Tahun 1992, disebutkan bahwa partisipasi

atau peran serta masyarakat berfungsi untuk ikut memelihara, menumbuhkan, meningkatkan, dan

mengembangkan pendidikan nasional.

Sementara itu, pasal 3 menyebutkan bahwa tujuan partisipasi masyarakat adalah

mendayagunakan kemampuan yang ada didalam masyarakat untuk kepentingan pendidikan

nasional.

PENDAYAGUNAAN PERS SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI HUMAS PENDIDIKAN

Pada dasarnya simpati dan partisipasi masyarakat dapat diperoleh dengan cara menciptakan

komunikasi timbal balik. Artinya, komunikasi tidak bersifat sepihak, akan tetapi melibatkan kedua

belah pihak. Sekolah merasa bahwa masyarakat adalah bagian penting dalam proses pendidikan.

Sebaliknya, masyarakat merasa bahwa sekolah adalah lembaga yang sangat dibutuhkan.

Sementara itu, komunikasi timbal balik dapat dilaksanakan melalui perantaraan media. Salahsatu

media yang sangat penting dewasa ini dan perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya adalah pers.

1. Pers dan Fungsinya

Dalam pembahasan ini, pengertian pers sengaja dibatasi secara khusus, yakni pers sebagai

media massa cetak, meskipun dalam arti umum pers meliputi media massa elektronik.

Didalam buku Komunikasi dalam teori dan praktek (1977:23), Astrid mengungkapkan bahwa

disamping menyiarkan informasi, fungsi pers juga mendidik, memberi hiburan, dan mampu

memberikan pengaruh kepada khalayak untuk melakukan kegiatan tertentu.

2. Pers sebagai Media Komunikasi

Pers sebagai unsur media merupakan media komunikasi massa. Oleh karena itu, seseorang

yang akan menggunakan media komunikasi massa sebagai sarana berkomunikasi, perlu

memahami terlebih dahulu bersifat karakteristik media komunikasi massa.

a. Komunikasi bersifat Heterogen

Pesan komunikasi yang disampaikan melalui media masssa adalah terbuka untuk semua orang.

b. Komunikasi massa bersifat Heterogen

Dalam komunikasi media masssa terdapat sejumlah besar komunikasn, yang terdiri atas individuindividu heterogen, baik dari segi tempat tinggal, pekerjaan, kondisi ekonomi, pendidikan, maupun

pengalaman.

c. Media Massa bersifat menimbulkan Keserepakan5

Keserempakan adalah kontak dengan pihak komunikator meskipun komunikan berada ditempat

terpisah.

d. Hubungan komunikator-komunikan bersifat nonpribadi

Sifat nonpribadi timbul akibat teknik penyebaran pesan secara massal sementara sifat komunikasi

massa harus bersifat umum.

3. Kegiatan Komunikasi Sekolah dengan Masyarakat melalui Pers

Dalam rangka meningkatkan daya guna pers sebagai media komunikasi sekolah dengan

masyarakat, terdapat beberapa bentuk kegiatan yang perlu didakan, yaitu:

a. Penulisan dan pengiriman siaran pers;

b. Penulisan dan pengiriman berita pendidikan;

c. Penulisan dan pengiriman artikel pendidikan;

d. Penulisan dan pengiriman pikiran pembaca.

PENGEMBANGAN KOMUNIKASI MANAJEMEN HUMAS PENDIDIKAN DENGAN

MEDIA MASSA

1. Pengembangan Manajemen Humas Pendidikan

Secara garis besar, pengembangan Manajemen humas pendidikan dapat ditempuh melalui

peningkatan posisi humas dan pengembangan fasilitas yang ada.

Secara strategis, peningkatan Manajemen humas melalui peningkatan posisi meliputi dua

aspek, yakni posisi operasional dan posisi struktural.

a. Peningkatan posisi Operasional

Aspek peningkatan Manajemen humas dari segi posisi operasional dapat dilakukan kebijakan

berikut.

1. Mengikutsertakan humas dalam proses pengambilan kebijakan pimpinan, untuk mengetahui latar

belakang dan program pimpinan. Dengan demikian, informasi kepada masyarakat baik langsung

maupun tidak langsung, dapat disampaikan oleh humas secara benar, tepat, cepat dan proposional.

2. Hendaknya disediakan kesempatan khusus bagi humas untuk berhubungan langsung dengan

pimpinan secara cepat dan setiap saat (hubungan ke dalam)

3. Hendaknya humas dipercaya sebagai sumber resmi satu-satunya dan terpercaya sehingga media

massa atau masyarakat mendapat informasi secara tepat dengan prosedur dan cara mudah, cepat,

serta tidak berbelit-belit (hubungan keluar)

b. Peningkatan Posisi Struktural

Untuk menunjang peningkatan posisi operasional, hendaknya posisi struktural organisator humas

ditingkatkan secara seimbang sehingga terjamin adanya kelancaraan kerja dengan pejabat-pejabat6

teras baik dilembaga pendidikan maupun lembaga atau intannsi lain, sesuai dengan fungsi dan

perananya.

2. Pengembangan Komunikasi Manajemen Humas Pendidikan dengan Media Massa

Untuk menunjang pelaksanaan fungsi dan peranan kedua aparat, perlu diwujudkan kerjasama

yang serasi, antara lain dengan cara berikut ini.

a. Memperbanyak pertemua bersama, misalnya jumpa pers dan pertemuan periodik.

b. Melakukan pres tour bersama untuk mengetahui secara langsung kegiatan pendidikan dan

kebudayaan yang sudah, sedang dan akan dilaksanakan.

c. Melaksanakan penataran, seminar, diskusi, lokakarya, dan sebagainya dalam bidang pendidikan dan

kebudayaan serta bidang publish.

d. Pengisian bersama ruang atau rubrik pendidikan dan kebudayaan.

e. Kedua belah pihak hendaknya mempunyai sikap terbuka dalam tukar menukar informasi masalah

pendidikan dan kebudayaan demi masyarakat luas.

f. Kedua belah pihak hendaknya menyebarkan seluas-luasnya informasi pendidikan dan kebudayaan

kepada masyarakat atau sampai eselon terbawah, baik melalui instansi resmi maupun media massa

(radio, televisi, dan sebagainya) tanpa perbedaan atau diskriminasi apapun.

KEBIJAKAN ATASAN SEBAGAI ACUHAN DALAM PELAKSANAAN HUMAS PENDIDIKAN

Pola Dasar Kebijakan Konsepsional Depdikbud

Letak esensi pembahasan ini, yaitu didalam pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat

perlu memperhatikan kebijakan atasan. Dalam hal ini, atasan ialah pejabat daerah hingga pejabat

tingkat pusat, yaitu pimpinan departemen, termasuk pejabat eselon satu. Apabila pelaksanaan

hubungan masyarakat tidak memperhatikan kebijakan atasan, mungkin akan terjadi

miskomunikasi.

Apabila hal itu terjadi, pasti ada kesimpangsiuran pesan yang diterima masyarakat. Resikonya

hal itu tidak akan membangkitkan partisipasi aktif dan positif masyarakat belum memahami

dengan jelas pesan yang diterima dari sekolah atau setidaknya masyarakat masih ragu untuk

berbuat sesuatu.

Menurut Mudjito (1984), pola dasar penerangan konsepsional Depdikbud meliputi (Gambar di

Lampiran 1 sampai dengan 6) :

1. Tujuh langkah khusus (strategi) yang digariskan mentri

2. Tugas-tugas kehumasan Depdikbud

3. Sistem Analisis tugas kehumasan Depdikbud

4. Arus kebijakan hingga produk penerangan

5. Komponen penerangan Depdikbud

6. Pola-pola dasar Penerangan Depdikbud.

PELAKSANAAN PROMOSI PENDIDIKAN KEJURUAN, CONTOH HUMAS PENDIDIKAN

1. Permasalahan serta Usaha Pembinaan dan Pengembangan

Berbagai masalah yang selama ini dihadapi dalam pembinaan dan pengembangan menengah

kejuruan mengakibatkan penyiapan rancangan program penerangan dan penyuluhan menjadi

pelik. Hal itu karena kita selalu berhadapan dengan kondisi didalam tubuh pendidikan menegah

kejuruan itu sendiri dan masyarakat. Dimana kebanyakan lembaga pendidikan kurang matang

dalam mempersiapkan lulusan yang siap kerja dan siap saing, apalagi akhir-akhir ini demam

masyarakat untuk memasukkan anaknya dalam dunia perguruan tinggi juga semakin tinggi, hal itu

dinilai oleh para orang tua, bahwa putra-putrinya lebih cocok untuk menempuh bangku SMA dari

pada di sekolah Kejuruan.

Demikian salah satu permasalahan dari banyak masalah yang dihadapi oleh Sekolah Kejuruan.

Namun semua itu harus dipecahkan permasalahanya dengan melaksanakan kegiatan penerangan

dan penyuluhan pendidikan yang simultan, yaitu dengan memperbaiki kondisi dan sikap

masyarakat luas, termasuk remaja, orang tua, dan usahawan atau industriawan. Sungguh semua itu

merupakan satu pekerjaan berat.

Dengan usaha tidak mengenal lelah, dimulailah penyusunan satu rencana pembinaan dan

pengembangan pendidikan kejuruan. Cara yang ditempuh adalah menyempurnakan secara

bertahap semua dimensi pendidikan tersebut. Selain itu, Direktorat Dikmenjur semakin intensif

mengadakan hubungan konsultasi dengan dunia usaha atau industri untuk mencapai relevasi

dengan perkembangan pembangunan.

Titik yang paling cerah dalam usaha konsolidasi tersebut terjelma dalam GBHN. Secara khusus

GBHN menyatakan bahwa sistem pendidikan nasional perlu disesuaikan dengan kebutuhan

pembangunan disegala bidang yang memerlikan jenis-jenis keahlian dan keterampilan serta

sekaligus meningkatkan produktifitas, kreativitas, mutu, serta efesiensi kerja.

Promosi intensif dipandang sebagai media paling efektif untuk memenuhi maksud diatas, karena

Promosi merupakan satu jenis komunikasi massa. Apabila kita menginginkan satu efektivitas

tinggi, perlu dipikirkan jangkauan dan sasaran yang luas, jangka waktu yang cukup lama, dan

frekuensi penampilan yang cukup meyakinkan. Mengingat sasaran Promosi yang dilakukan cukup

luas, usaha tersebut perlu didukung oleh staf lengkap dan profesional. Di samping itu, perlu

disediakan dana cukup agar diperoleh hasil optimal dari semua usaha Promosi.

2. Tujuan Promosi

Pada umumnya masyarakat belum memahami dan menghayati peran pendidikan kejuruan

terhadap peningkatan kehidupan masyarakat dan pembangunan nasional. Banyak siswa dan orang

tua memilih sekolah umum dan memaksa anaknya untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi

meskipun mereka sadar bahwa kemampuan akademis anak dan kemampuan ekonomi orang tua

kurang mendukung. Sikap seperti itu hendaknya diubah melalui penerangan-penerangan yang

lebih luas dan intensif tentang seluk beluk pendidikan kejuruan kepada siswa SMP, orang tua, dan

masyarakat. Usaha tersebut diharapkan dapat meningkatkan minat siswa SMP untuk memasuki

pendidikan kejuruan.

3. Sasaran Promosi

Untuk mencapai hasil optimal, sasaran kampanye dibagi menjadi 3 kelompok yaitu:

1. Siswa SMP

2. Orang tua siswa SMP

3. Masyarakat umum

Pembagian kelompok sasaran tersebut didasarkan atas perbedaan keadaan dan daya tangkap setiap

masyarakat.

4. Strategi Promosi

Untuk melaksanakan suatu Promosi, hendaknya disusun suatu strategi tertentu agar kampanye

tersebut mencapai sasaran. Strategi yang perlu dilaksanakan, antara lain sebagai berikut.

a. Untuk siswa Promosi, kampanye sebaiknya ditangani guru masing-masing.

b. Untuk orang tua siswa, kampanye ditangani KOMITE (persatuan Orang Tua Murid dan Guru)

atau BP3, Pemerintah daerah (pemukiman/desa), departemen penerangan, dan media massa.

c. Untuk masyarakat umum, kampanye ditangani Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,

Departemen Penerangan, serta Departemen Tenaga Kerja, yang bekerja sama dengan dunia usaha

dan media massa.

5. Koordinasi Pelaksanaan Promosi

Mengingat program dan sasaran Promosi yang cukup luas, dalam pelaksanaan kamapanye

diharapkan terdapat partisipasi dari berbagai intansi. Agar koordinasi pelaksanaan kampanye dapat

berjalan dengan baik, perlu dibentuk satu satuan tugas yang terdiri atas berbagai unsur, antara lain:

a. Unsur Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

b. Unsur Departemen Penerangan

c. Unsur Departemen Tenaga Kerja

d. Unsur Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI)

e. Unsur Kamar Dagang dan Industri (Kadin)

f. Unsur Media massa

6. Metode Promosi

Dalam pelaksanaan Promosie dipilih dua bentuk metode pendekatan, yaitu metode langsung dan

metode tidak langsung.

a. Metode langsung

Dengan metode ini pendekatan dilakukan secara langsung, yakni petugas Promosi langsung

berhadapan dengan sasaran. Cara tersebut dapat digunakan oleh para guru yang bertindak sebagai

petugas Promosi kepada siswa yang menjadi sasaran kampanye.

b. Metode tidak langsung

Dengan metode ini pendekatan tidak dilakukan secara langsung, tetapi menggunakan berbagai

media, seperti media cetak, iklan, film dan lain-lain. Motode tersebut mungkin lebih banyak

digunakan karena dianggap lebih mudah dan sasaranya pun lebih luas.

7. Sarana Promosi

Kampanye yang dilaksanakan dalam usaha meningkatkan minat masyaarakat untuk memasuki

pendidikan kejuruan dapat ditempuh dengan berbagai sarana, baik langsung maupun tidak

langsung, diantaranya adalah:

a. Surat kabar

b. Majalah

c. Poster

d. Buku-buku prospektus

e. Televisi dan radio

f. Film penerangan

g. Kegiatan belajar mengajar, dan

h. Kunjungan terbuka ke sekolah kejuruan.

j. Media Sosial online (WEB, FB, YOUTUBE, IG dll)